Artikel

Mengenal Ikan Hias Endemik Indonesia: Banggai Cardinal Fish

BCF yang berenang bergerombol di perairan Pulau Barrang Lompo (Photo By Fitra Jaya)

Pterapogon kauderni atau lebih dikenal dengan nama umum Banggai Cardinalfish (BCF), merupakan spesies ikan endemik di Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah) dan beberapa pulau kecil di perbatasan Maluku. BCF pertama kali ditemukan pada ekspedisi eksplorasi tahun 1917-1920 oleh Walter Kaudern, seorang peneliti dari Leiden, Belanda. Setelah 13 tahun kemudian baru dilakukan identifikasi berdasarkan klasifikasi taksonomi di museum Leiden, Belanda dan dipublikasikan sebagai species baru. Secara taksonomi karena terdapat perbedaan dengan spesies Apogon yang telah diklasifikasikan sebelumnya, maka spesies baru tersebut kemudian digolongkan kedalam genus baru yaitu Pterapogon  yang berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri dari kata Pter yang berarti sayap; apo yang berarti jauh/panjang; gon yang berarti cara memijah (dari cara mengerami  telur di mulut) dan nama spesies kauderni sesuai dengan nama penemunya yaitu Walter Kaudern.

Sebaran BCF terbatas hanya pada perairan dangkal berkarang, dengan kedalaman tidak melebihi 3,5 m. Ikan ini sering teramati berenang diantara duri-duri bulu babi, sehingga dapat diindikasikan bahwa spesies ini hidup bersimbiosis dengan bulu babi (Diadema). Ikan ini akan cenderung diam di antara bulu babi ketika merasa terancam, hal ini menyebabkan penangkapan ikan ini sangat mudah. Selain itu Banggai Cardinal Fish juga sering ditemui pada karang bercabang dan anemone laut.

Peta Wilayah Sebaran Perlindungan Terbatas BCF

BCF merupakan ikan predator dengan makanan utama berupa zooplankton dan zoobenthos antara lain copepod, larva, crustacea kecil, dan jenisnya sendiri (kanibal). Ikan ini bersifat Mouth brooder with direct development, artinya ikan jantan mengerami telur dalam mulutnya hingga menjadi larva. Juvenil yang terlepas dari mulutnya akan segera mencari tempat perlindungan disekitar habitat induknya. Sehingga jika tidak cepat mendapat tempat perlindungan ikan ini akan dimangsa oleh jenisnya sendiri bahkan induknya sendiri. Ikan ini memiliki pola reproduksi yang khas karena tidak memiliki fase pelagis seperti ikan pada umumnya. Pola hidup dari ikan ini cenderung statis atau tidak berpindah-pindah. Ikan ini mencapai kematangan gonad atau siap bereproduksi pada umur 9 bulan atau dengan ukuran 3,5 cm dengan ukuran maksimum pertumbuhan adalah 5 cm. Jumlah anakan yang dihasilkan dalam sekali kawin sangat terbatas antara 26-32 juvenil, hal ini mengakibatkan  perkembangbiakannya menjadi sangat lambat.

Pada awalnya BCF dikenal sebagai ikan hias yang tidak memiliki nilai ekonomis penting bahkan hanya sebagai mainan anak-anak dipesisir Kepulauan Banggai. Namun pada tahun 1980-an upaya penangkapan BCF mulai dilakukan di desa Tolokibit, Kecamatan Banggai dan diperdagangkan di pasar lokal. Selanjutnya pada tahun 1995-1996, pemanfaatan secara komersial mulai dilakukan dengan pangsa pasar internasional sebagai komoditi ekspor. Permintaan BCF yang terus meningkat menyebabkan populasi dari ikan ini menurun drastis karena terjadai overfishing. Hal ini menyebabkan Status ikan BCF termasuk dalam Red List IUCN yaitu kelompok Threatened Species (IUCN, 2007) sehingga pemanfaatannya harus dilakukan secara terbatas.

Dalam rangka menjaga dan menjamin keberadaan dan ketersediaan populasi dari BCF (Pterapogon kauderni), maka Menteri Kelautan dan Perikanan menetapkan Status Perlindungan Terbatas Ikan Capungan Banggai (Pterapogon kauderni) dalam KEPMEN NOMOR 49/KEPMEN-KP/2018 Tentang penetapan status perlindungan terbatas Ikan Capungan Banggai (Pterapgon kauderni), dimana dilarang melakukan penangkapan pada puncak musim pemijahan yang terjadi pada bulan Februari, Maret, Oktober dan November pada kawasan yang telah ditentukan (gambar 2). Salah satu cara untuk mengurangi  tekanan terhadap populasi alami akibat pengambilan ikan hias capungan Banggai dari alam adalah melalui upaya budidaya. Budidaya BCF ini telah berhasil dilakukan di BPBL Ambon dan LINI Bali.

Sumber:

*Hartati, S. T., Wudianto, W., & Sadiyah, L. (2012). Pengelolaan sumber daya ikan        banggai cardinal (Pterapogon kauderni) di perairan kepulauan Banggai.  Jurnal  Kebijakan Perikanan Indonesia, 4(1), 1-8.

*Makatipu, P. C. (2007). Mengenal Ikan Hias Capungan Banggai (Pterapogon  Kauderni). J. Oseana, 32(3), 1-7.

*Ndobe S. & A. Moore. 2005. Pterapogon kauderni, Banggai Cardinalfish: Beberapa Aspek Biologi, Ekologi dan Pemanfaatan Spesies Endemik di Sulawesi Tengah yang Potensil untuk Dibudidayakan. Presented at the Seminar Nasional Perbenihan 2005 in Palu, Indonesia.

*Republik Indonesia, Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik  Indonesia Nomor 49/KEPMEN-KP/2018 tentang Penetapan Status Perlindungan     Terbatas Ikan Capungan Banggai (Pterapogon kauderni).

——————–

*Editor :

Mardia Sultan (011.XVIII.AB.189)