Artikel

ABALONE

 

Source : Google

Abalone atau dikenal dengan nama ilmiah Haliotis sp. merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Abalone merupakan gastropoda laut yang termasuk dalam genus Haliotis. Di Indonesia sendiri terdapat 7 jenis abalone antara lain: H. asinina, H. varia, H. squamata, H. ovina, H. glabra, H. planata dan H. crebrisculpta yang banyak tersebar di Kepulauan Seribu, Madura, Bali, Lombok, Sumbawa, Sulawesi, NTT, Maluku dan Papua.

Abalon memiliki cangkang yang berbentuk seperti telinga sehingga abalone juga dikenal dengan nama sea ear. Pada bagian kiri cangkang terdapat lubang (pores) yang berfungsi sebagai lubang respirasi, reproduksi (pengeluaran gamet) dan ekskresi. Cangkang abalon cembung dan melekat kuat dengan kaki otot/muscular foot) di permukaan atau substrat tempat menempelnya. Warna cangkang bervariasi tergantung dengan spesiesnya. Salah satu keistimewaan dari abalon adalah warna cangkang bagian dalamnya yang beragam yang dihasilkan oleh nacre atau disebut juga mother of pearl.

Source : Google

Pada bagian tepi tubuh abalon terdapat selaput epipodium, bentuknya bergelambir dan berlipat-lipat dengan banyak sungut kecil (tentacles) yang berperan sebagai organ sensor. Kepala abalon terletak di bagian depan (anterior) sebelah kanan, terdapat mulut, sepasang sungut, sepasang mata, dan jaringan parut (radula). Organ reproduksi (gonad) terdapat pada bagian kanan, gonad pada abalon betina tampak berwarna hijau kebiruan dan menghasilkan telur berwarna hijau kebiruan, sedangkan abalon jantan memiliki gonad berwarna krem keputihan.

Abalon merupakan hewan dioecious (jantan dan betina terpisah) seperti moluska lainnya. Pembuahan terjadi di luar (fertilisasi eksternal). Gamet jantan dan betina dilepaskan ke perairan, kemudian terjadi pembuahan. Telur yang sudah dibuahi menetas menjadi larva yang bersifat planktonis. Ketika cangkang sudah terbentuk, juvenil abalone akan cenderung menuju ke dasar perairan dan melekatkan diri pada batu dengan memanfaatkan kaki ototnya. Adapun tahapan kehidupan abalone setelah menetas adalah menjadi trochopore, kemudian veliger, juvenile, dan menjadi abalone dewasa.

Abalon dewasa merupakan herbivora yang umumnya memakan makroalga, terutama alga merah, dengan menggunakan radula. Abalon termasuk herbivora yang aktif memakan mikroalga dan makroalga pada malam hari. Makanan utama abalone dewasa adalah potongan-potongan makroalga yang hanyut terbawa arus dan gelombang. Juvenil abalone memakan alga yang hidup di batu karang, diatom, dan bakteri, sedangkan larva abalone memakan plankton.

Source : Google

Permintaan pasar dunia akan abalon terus meningkat sedangkan hasil tangkapan terus menurun. Menurut data FAO, Produksi abalon dunia dari hasil tangkapan alam mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1970, produksi abalon dari tangkapan alam mencapai 19.720 ton, sedangkan pada tahun 2012 tangkapan berkurang menjadi 7.424 ton. Oleh karena itu, budidaya abalone khususnya di Indonesia perlu ditingkatkan karena potensi daerah pesisir yang dimiliki Indonesia sangat mendukung untuk pengembangannya. Budidaya abalon juga dapat menjadi alternatif atau tambahan penghasilan bagi masyarakat pesisir sekaligus memberikan dampak positif secara ekologis, yaitu mengurangi tekanan terhadap penangkapan abalone di alam. Pengembangan abalone diharapkan tidak hanya berorientasi terhadap keuntungan saja, tetapi juga harus memperhatikan kondisi lingkungan.

 

Sumber:

Octaviany, M. J. (2007). Beberapa catatan tentang aspek biologi dan perikanan abalon. Oseana,   32(4), 39-47.

Setyono, D. E. D. (2004). Abalone (Haliotis asinina L): A Prospective Species For Aquaculture In Indonesia. Oseana, 29(2), 25-30.

Tim Perikanan WWF-Indonesia. (2015). Budidaya Abalon (Haliotis sp.), Sistem Karamba Apung.

 

*Penulis : Mardia Sultan (011.XVIII.AB.189)